close
investasi yang kontroversial

Di televisi dan film, investasi di pasar saham sering digambarkan sebagai proses dua-dimensi di mana keberhasilan hanya masalah membeli dengan harga rendah dan menjual dengan harga tinggi. Tentu saja, esensi dari setiap jenis investasi adalah untuk menjual apa yang Anda miliki lebih dari biaya yang dikenakan padanya. Pertanyaannya adalah bagaimana Anda bisa mencapai kondisi tersebut. Berikut ini adalah beberapa strategi investasi yang dianggap kontroversial.

1. Hipotesis Pasar Efisien

Strategi ini dianggap kontroversial karena beberapa alasan, salah satunya karena tak akanlagi  investor yang sangat sukses sepanjang masa, seperti Warren Buffet. Menurut hipotesis pasar efisien, tidak mungkin bagi investor untuk “mengalahkan pasar” secara konsisten. Dengan sedikit keberuntungan, mengalahkan pasar bisa terjadi sesekali, tapi tidak tanpa paparan risiko yang lebih besar.

2. Prinsip 50%

Strategi investasi ini hampir sepenuhnya teknis karena hal ini lebih didasarkan pada perubahan di pasar daripada pada pembelian dan penjualan saham berdasarkan nilai perusahaan. Pedagang teknis memperhatikan grafik perubahan harga saham dari waktu ke waktu untuk mengidentifikasi tren. Tren merupakan pergerakan harga saham yang berkelanjutan, baik ke atas atau ke bawah. Pemuja prinsip 50% percaya bahwa tren secara berkala terganggu oleh koreksi harga yang berkisar dari satu-setengah sampai dua pertiga perubahan harga saham.

3. Strategi Paritas Risiko

Portofolio investasi tradisional sering didasarkan pada pembagian 60%/40% antara saham dan obligasi, dan difokuskan pada pertumbuhan ekonomi sebagai katalis untuk pertumbuhan portofolio. Portofolio paritas risiko berusaha untuk menyeimbangkan risiko dan dengan demikian memberikan hasil yang lebih konsisten di berbagai kondisi pasar. Strategi paritas risiko akan mengalokasikan sumber daya di antara saham, obligasi, komoditas, dan tingkat suku bunga dalam upaya untuk menormalkan risiko. Kelemahan dari pendekatan investasi paritas risiko adalah bahwa performa strategi ini mungkin tak akan sebaik portofolio tradisional di pasar bull (pembeli sedang memegang kendali pasar). Namun, pendukung strategi ini mengatakan bahwa kelemahan ini dikompensasi dengan kinerja yang unggul selama pasar bear (harga saham turun).

4. Teori Orang Bodoh (Greater Fool Theory)

Teori ini hampir selalu sepenuhnya teknis karena mengabaikan data dan didasarkan pada keyakinan bahwa akan selalu ada seseorang yang bersedia membayar harga yang lebih tinggi untuk saham. Seperti permainan poker tipuan, investor asli berjudi bahwa orang lain mau menaikkan taruhan dan membayar harga yang lebih tinggi. Pembeli potensial ini dianggap orang b karena mereka akan membeli investasi overvalue berdasarkan kurangnya pengetahuan, seperti halnya pembeli aslinya.

5. Teori Ekspektasi Rasional

Teori ini mengatakan bahwa orang-orang mendasarkan pandangan mereka tentang ekonomi secara umum dan bagaimana mereka berinvestasi berdasarkan pada harapan rasional mereka di masa depan, dengan menggunakan kombinasi informasi yang tersedia (meski tidak harus lengkap) dan pengalaman masa lalu. Teori ini lebih lanjut menyatakan bahwa perekonomian akan bekerja, setidaknya sebagian, didasarkan pada harapan daripada fakta. Hasilnya adalah semacam ramalan ekonomi untuk memenuhi harapan pribadi. Dalam teori ini, jika investor percaya saham akan naik nilainya, hal ini akan terjadi sebagai akibat dari ekspektasi rasional investor. Kontroversi teori ini adalah bahwa hal itu dapat digunakan untuk menjelaskan hampir semua perilaku pasar, dan karena itu tidak memiliki utilitas.

 

Sumber: www.thesimpledollar.com

Tags : investasi