close
mitos traveling

Banyak orang yang akhirnya tidak melakukan traveling sebanyak yang mereka inginkan. Mengapa demikian? Yak arena mereka percaya dengan beberapa mitos yang berkembang mengenai traveling. Berikut ini adalah beberapa mitos tentang traveling yang sebenarnya palsu, disertai dengan penjelasan yang akan membuat Anda sadar bahwa selama ini Anda telah salah.

1. Traveling itu mahal

Memang, kota seperti London dipenuhi dengan hotel-hotel dengan biaya yang sangat mahal. Tapi bahkan ibukota Eropa ini, yang pasti ada dalam daftar Anda, biayanya bisa ditekan ke bawah dengan riset yang cermat, paket wisata (di mana tiket pesawat dan tarif hotel biasanya dibundel ke dalam paket), dan manfaatkan juga barang gratis atau penawaran yang bisa Anda dapatkan dimanapun.

2. Traveling sendirian itu berbahaya

Yang mengatakan bahwa traveling sendirian (solo traveling) itu berbahaya biasanya adalah orangtua atau orang terdekat. Tapi sekarang, jumlah solo traveler meningkat. Bukan hanya backpacker lho. Banyak juga orang-orang yang sudah menikah tapi memiliki minat budaya dan kuliner berbeda melakukan traveling solo. Orang-orang tua juga banyak yang melakukannya. Jadi, masih percaya traveling sendirian itu berbahaya?

3. Kartu kredit adalah cara terburuk untuk membayar perjalanan Anda

Tentu saja tidak disarankan bagi Anda untuk melakukan perjalanan yang tidak kuat Anda bayar. Tapi jika Anda bisa mengelola kartu kredit dengan benar sekalian memanfaatkan reward yang diberikan, mengapa tidak? Pastikan Anda mendapatkan nilai tukar yang menguntungkan juga lho saat pembelian. Tanyakan pada penyedia kartu Anda reward apa yang bisa Anda dapatkan berkaitan dengan traveling.

4. Menyewa rumah terlalu mahal untuk sebuah keluarga

Tinggal di hotel saat traveling bersama keluarga bisa sangat mahal. Jika keluarga Anda tidak bisa masuk dalam satu kamar hotel, ada baiknya Anda memikirkan menyewa rumah atau apartemen yang memungkinkan Anda memasak makanan sendiri, yang memiliki ruangan lebih untuk sekedar bersantai (halaman belakang, misalnya), dan yang membuat Anda bisa berhemat tentunya.

5. Traveling saat off-season berarti liburan tingkat kedua

Ada istilah dalam bahasa Inggris, ‘shoulder season’ yang merupakan waktu antara high-season dan low-season, yaitu ketika cuaca masih bagus, tapi jumlah wisatawan sudah menipis dan harga telah menurun drastis. Eropa pada musim gugur! Karibia tepat sebelum musim dingin! Hawaii di musim semi! Off-season di beberapa negara lain bisa beda juga. Di Indonesia, off-season adalah musim ketika tak banyak orang liburan (masa masuk sekolah, masa ujian, dll). Di Malaysia, masa puasa (Ramadan) bisa juga jadi off-season, dan Anda yang tak berpuasa bisa memanfaatkannya.

6. ‘All-inclusive’ artinya ‘all-inclusive’

Kata ini terdengar sangat indah. Dan ketika Anda tak harus merogoh kocek saat traveling tentu sangat menarik. Tapi … Ketika Anda memesan kapal pesiar, pastikan Anda membaca lembaran perjanjiannya (atau telepon ke CS-nya), sebelum mengklik ‘book’. Hal ini juga berlaku untuk penawaran lain, seperti paket-paket wisata.

 

Sumber: www.budgettravel.com

Tags : panduan wisata